Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bukanpun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ilmu mengambil peran pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur.

(Alm. Rahmat Abdullah)




.: Taujih :.

Ibu itu ibarat sekolah, jika kau persiapkan dengan baik, berarti tengah kau persiapkan satu bangsa yang berbudi luhur.

(Syaikh Mahmud Al-Mashri)


pauseifdisturbingu

follow to get update

Paling Populer

Celoteh

mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini | mimpi hari ini adalah kenyataan esok | luruskan niat dan mulailah dengan basmallah

.

.

pengunjung

Dari angka nol

Perempuan shalihah belum tentu akan menjadi istri sholehah
Istri sholehah belum tentu akan menjadi ibu sholehah
Ibu sholehah belum tentu bisa mendidik anak-anaknya menjadi sholeh sholehah
Berusaha menjadi perempuan sholehah, istri sholehah, atau ibu sholehah.. belum tentu sholehah di mata Allah. 

"Mulai dari angka nol ya"

never ending learning..
Ya Allah faghfirlanaa.. irhamna Ya Allah.. 

Buat Apa Menikah?

Kapan yak gw mulai kenal kata menikah? entahlah.. yang gw inget mungkin pas SD saat lagi gandrung kartun Sailormoon. Dikisahkan Sailormoon dan Tuxedo Bertopeng sudah ditakdirkan untuk menikah di masa depan. Namun demikian saat itu mereka sibuk menjadi pahlawan kebenaran. 'Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!!', gituh kata Sailormoon. Tiap kali Sailormoon terdesak, Tuxedo Bertopeng akan selalu datang. Tanda-tandanya, kalau tetiba ada yang ngelemparin bunga mawar putih, nah itulah tanda Tuxedo Bertopeng datang menyelamatkan Sailormoon.. dan dia akan bertanya, "Kamuh tidak apa-apa???". Lalu Sailormoon dibawa pergi oleh Tuxedo Bertopeng untuk diselamatkan.. kyaa kyaaa.. *ini nape dialognya jadi macam Kabayan dan Nyi Iteung ye*.


Hari berganti hari.. gw udah ga nonton kartun lagih. Yang gw tonton film Mandarin. Bela-belain dah gw begadang nonton Meteor Garden. Dua tokoh utama, Shan Chai dan Tao Ming Tse, katanya pada akhirnya akan menikah. Shan Chai seorang gadis biasa banget yang disukai oleh Tao Ming Tse, seorang anak bos besar yang ganteng dan populer luar biasa. Awalnya sih Tao Ming Tse itu suka jahat kepaa Shan Chai, tapi lama kelamaan tiba-tiba dia jadi naksir juga. Khayalan itulah yang bikin gw nyari-nyari, siapa ye yang macam Tao Ming Tse di sekolah gw?? dan gw ngebayangin bahwa ada kejadian dimana gw tabrakan sama si doi kemudian tiba-tiba cerita Shan Chai dan Tao Ming Tse pun terjadi pada hidup gw.. dan tiba-tiba cewek satu esempe benci sama gw gara-gara gw disukain sama 'Tao Ming Tse'. Si doi datang ke kelas gw pakai kaca mata itam yang diiringi cewek-cewek yang naksir dia *kya-kya-kya*, tiba-tiba pas sampai di kelas gw dia lepas kaca mata itam kemudian berkata, "Ada Linda??" Wadaaaaaah... #JEDUGGGHHHHH tiba-tiba gw menjedugkan kepala ke tembok dan menyadari bahwa itu adalah lamunan superduperabsurd dangdut gw yang norak abiss.

Pas gw lebih abegean, gw suka juga nonton reality show Katakan Cint*. Macam reality show orang nembak cewek untuk jadi pacarnya *cring-cring-cring* mata gw kedip-kedip. Keren banget ituh ditembak ditonton orang satu Indonesia (pikir gw saat itu). Femes banget ituh pasti. Jadi gw juga ngayal macam itu. Karna saat itu gw udah mulai ngaji dikit, jadi gw ngayalnya bukan ditembak lah. Kalik-kalik dilamar via Katakan Cint* sama orang yang disukai. Ya ampun sweet banget.. (pikir gw saat itu). Pikiran gw juga belum kaffah banget tentang interaksi laki-laki dan perempuan dalam Islam, jadinya gw masih berharap ditembak dulu baru dilamar. Ampun dah. Tapi itu cuma khayalan gw, nyatanya Katakan Cint* tidak terjadi pada gw. Jadilah gw mengambil hikmah, bahwa kalau ada orang gak pacaran jangan buru-buru muji. Karena sebenarnya ada dua kemungkinan, dia gak pacaran karena PRINSIP atau NASIB. Nah kalau gw, mungkin karena nasib, qiqiqi. Anyway Alhamdulillah berarti gw masih diingetin dan terus diingetin sama Allah lewat penjagaan-penjagaannya.

Umur berbilang, banyak juga yang gw alami. Gw masih ya.. pecicilan sih, tapi udah berkurangan dikit. Gw udah gak mikir tembak-tembakan lagi, yang gw tonton Ayat-Ayat Cint* dan Ketika Cinta Bertasbeh *macam mana pulak cinta bertasbeh.. haha*. Ya, gw sih mikirnya, wadeu.. kali-kali aja yak tiba-tiba Kholidi Asadil dan Fedi Nuril datang ke Bandung dan nyariin gw.. jia jia jia. Hahaha. Tapi kan gw bukan Oki Setiana Dewi dan juga bukan siapa ituh pemain film bareng Fedi Nuril?? Rianti Cartridge *emang printer*.. jadi sebab akibat appa yang bikin mereka nyariin gw??? kecuali misal gw jualan oleh-oleh Bandung, ya kali mereka nyariin.. Huhuhu..

Tapi semua berubah ketika negara api menyerang.


Sewaktu berkesempatan ziarah kubur, di depan pusara gw mikir lamaaa. Mikir kalau ternyata Allah itu sayang banget sama gw.. gw yang suka ngeyel seenak udel atau bantah perintahNya, gw yang suka protes sama ketentuanNya, gw yang suka berprasangka buruk sama surprise manis dari Dia... tapi masih sering diingetin sehingga saat ini gw masih sadar dosa-dosa gw, gw masih bisa perbaiin itu. Gw terhenyak di depan pusara. Pandangin lekat-lekat itu pusara. Jika saat ini gw suka minta dinasehatin tentang segala sesuatunya sama orang-orang di sekitar. Misalkan saat gw pusing ngerjain tugas bejibun, kegiatan organisasi lagi acak-acakan, atau masalah lain yang entah gw bingung nyelesainnya, bahkan gw minta nasehat orang untuk urusan diet dan jerawat *Ngeek* gw minta nasehat sama orang. Tapi saat-semisal, gw ada di posisi manusia yang akan dibenamkan ke dalam pusara.. tentu urusan tugas, organisasi, atau apapun.. pasti itu cuma urusan sepele banget. Apalagi urusan diet dan jerawat. Doh! betapa kerdilnya gw. Nyatalah kenapa orang bilang bahwa kematian adalah nasihat terbaik. Karena ribuan nasihat akan masalah apapun akan lenyap dan tidak sebanding dengan nasihat pada manusia yang akan mati. Ah, Allah.. maafkan hamba.

Maka dari itulah, dari kesadaran pada kematian, pada pikiran bahwa gw ga akan hidup selamanya di dunia ini... juga- ada kehidupan maha kekal di akhirat sana yang entahlah dimana ujungnya.. gw gaaaaak butuh Tuxedo Bertopeng, Tao Ming Tse, Kholidi Asadil, Fedi Nuril, atau siapapun itu.... Yang gw butuh tentu teman seperjalanan yang mau nanggung segala kepecicilan dan kedodolan gw dan mengingatkan supaya gw selalu sadar tujuan akhir perjalanan manusia itu di surga.. #eaa *mewekambiltisyuu* *kasianbangetsidoi*. Dan juga.. Katakan Cint* yang ditonton sama seluruh orang Indonesia lewat TV, gak ada artinya sama sekali dibanding sebuah perjanjian berat, Mitsaqon Gholidzo yang disaksikan oleh Allah, para Malaikat, orang-orang beriman, lewat ijab dan qobul, "Saya terima (tanggung jawab dosa) Fulanah dunia akhirat sebagai bagian pertanggungjawaban saya sebagai pemimpin keluarga. Juga, jika Fulanah tidak beriman, itulah bagian dari hisab saya sebagai pemimpin keluarga.". Di situ kadang saya merasa sedih. Betapa berat tanggung jawab para pria dan hanya pria beriman yang akan selalu ingat tanggung jawab itu. Ah, ya ampun.. betapa manusia itu seringkali salah fokus. Al-Qur'an memuliakan kita sebagai pedoman hidup, dan kita mencari kemuliaan lain selain dari Al-Qur'an yang terikat erat pada kriteria-kriteria dunia, lewat pandangan dua bola mata manusia yang terbatas. Ah.

Semoga  gw selalu ingat-ingat tulisan ini. Tulisan yang gw tulis dengan segala kejujuran, kepecicilan, dan kedodolan gw, tapi juga gw sertakan bahwa ada saatnya manusia akan insaf dan sadar akan tujuan penciptaannya, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Jadi apapun itu, termasuk menikah, semoga gw selalu inget kalau niatnya buat ibadah *meweklagigw* huks huks.
Sungguh, kematian adalah nasihat yang terbaik.

nb:
Tulisan ini ditulis abis baca blog Teh Kiki Barkiah dan gw jadi pengen nilis juga..
https://kikibarkiah.wordpress.com/2015/06/17/apa-niatmu-menikah/
Gambar diambil dari gugel

Elegi Suka Cita

Pertama kali aku menemukanmu, atau kamu menemukanku, pertanyaanmu sederhana.
Cinta itu apa?
Lalu aku jawab cinta itu ya begitulah. A B C D E.
Bolehkah jika mencintai seseorang lalu ingin memilikinya?
Kemudian aku jawab lagi, boleh dengan syarat A B C D E sebagaimana yang Allah bilang.
Oh begitu, katamu gamang.
Iya, kataku datar.
Lanjutku, tidak apa-apa kamu boleh punya cinta tapi simpan saja begitu saja. 
Baiklah, katamu lebih tenang. Setidaknya kamu merasa dimanusiakan, begitu kutebak.

Besok-besoknya kamu bertanya lagi, apa itu arti jilbab?
Tanganmu mengibas-ngibas ujung jilbabmu ke leher.
Dua jilbab tipis digabung. Gerah, katamu.
Islam menyusahkan, keluhmu.
Aku diam saja, tidak memaksa, tidak memarahi.
Besoknya kulihat kaupakai lagi jilbab terawang itu.
Lehermu! pekikku dalam hati. Dengan jelas aku dapat melihat jenjang leher di balik jilbab itu.  
Tapi mulut kubungkam. Bukan saatnya, tahanku.

Kita kemudian bersama dalam hitungan hari, kemudian bulan-bulan berganti.
Yang kamu tanyakan bukan lagi yang dulu-dulu, kini kamu bertanya yang lain.
Da'wah itu apa?
Lalu aku jawab da'wah itu ya begitulah. A B C D E.
Bolehkah jika berda'wah karena orang lain?
Kemudian aku jawab lagi, boleh tapi A B C D E sebagaimana yang Allah bilang.
Oh begitu, katamu gamang.
Iya, kataku datar.
Lanjutku, tidak apa-apa saat ini kamu berda'wah karena orang lain dan terus saja berda'wah. Nanti tau sendiri kapan egomu akan tergerus keikhlasan.
Baiklah, katamu lebih tenang. Setidaknya kamu merasa dimanusiakan, begitu kutebak.

Jadi kamu mulai berda'wah rupanya, dan aku tidak tau kapan kamu berda'wah untuk dilihat orang lain dan kapan demi-Nya?
Aku tidak mau repot-repot memikirkan itu. Tidak perlu.  
Aku diam saja, tidak menghakimi, tidak memarahi.
Dan orang-orang di sisi kanan kiri mulai membicarakanmu karena kekritisanmu, ketokohanmu.
Sebagian ada yang turut gembira, tapi sebagian ada yang gerah.
Kamu, dianggap terlalu unjuk suara.
Belum umurmu, kata mereka.
Kadang pun kamu berontak pada mereka, tidak mau menurut.
Pada nalurimu kamu percaya, kamu benar.
Namun kebenaran tidak akan lengkap tanpa akhlaq.
Tanpa akhlaq, kamu akan selalu menyakiti orang lain. 
Tapi mulut kubungkam. Bukan saatnya, tahanku.
Aku mengerti, karena padamu ada bayang aku yang dulu. 
Mereka bertanya kepadaku, mengapa aku membiarkanmu selalu men-duri dalam homogenitas kelompok?
Kubilang saja, aku lebih tau.
Lebih tau bahwa kamu memang salah, tapi nakalmu bukan sengaja.
Aku ingin memperlakukanmu sebagaimana Rasul memaklumi Umar. 
Lalu biarlah kunasihati sejenak, tapi tiada yang kunasihati banyak untukmu selain selalulah membaca Al-Qur'an.
Itu suatu saat itu akan melembutkan hatimu.

Pada hitungan hari berganti bulan, kini hitungan tahun sudah berbilang. 
Aku sudah tidak bisa lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.
Kamu tidak lagi bertanya,
Cinta itu apa?
Da'wah itu apa?
Mengapa harus berjilbab?
Lebih-lebih lagi pertanyaan yang aku tidak tau jawabnya apa. 
Jadi aku mungkin sudah mulai renta pada ilmu.
Sudah tidak bisa mengimbangimu lagi berlari.
Maka pada saat bahagianya aku melihatmu dari kejauhan, hari ini.
Pada beratnya hati, sudah kuputuskan.
Lepaskanmu. Segera. 
Sudah saatnya kita berpisah, carilah orang selain aku untuk belajar.
Besok pada ingatan-ingatan manismu tentang cerita-cerita indahnya belajar yang kuceritakan,
kamu belum tau, bahwa masih ada cerita-cerita pahitnya belajar.
Aku tidak bermaksud bohong, tapi kamu harus mengenal salah satunya untuk bisa membedakan keduanya: 'manis' atau 'pahit'. Jadi kupilih untuk mengenalkanmu pada yang manis.
Selamat mengarungi hutan belantara penuh ketidakidealan.
Sampai jumpa di hari lain,
tidak ada yang lebih mulia diantara 'Siapa yang menyampaikan' dan 'Siapa yang mendengarkan'.
yang mulia adalah satu atau keduanya 'Yang mengamalkan'.
Mungkin ini adalah sedikit elegi, tapi lebih banyak suka cita.

*ditulis dari dalam kamar, menunggu buka puasa Ramadhan #1 1426 H


Geje sekali lagi geje

Ya Allah berikanlah akuuu hidayah dan ilham untuk menyelesaikan jurnal dan revisi segera sebelum romadhon mulaaaaaaaiiiii...
aaaaakkkk
gimana iniii belum bereeess.. 
ngaji juga kagak ada ekskalasinyaa.. 
heu ga bisa mikiirrrrr
Ayo Linda.. jangan ngantuk jangan ngantuk *semprotin nutri sari* *jedugin kepala ke tembok*
hiks hiks

Sang Lelaki

Semua hal yang dilakukan laki-laki adalah logis kecuali ego mereka. 

Itulah mungkin yang ada di pikiran saya seringkali waktu. Pada saat wanita berkata demikian, laki-laki pun mungkin akan berpikir bahwa perempuan juga amat membingungkan. Yang jelas bagi saya, laki-laki tidak akan bisa mengerti perempuan sepenuhnya sebagaimana perempuan tidak akan bisa mengerti laki-laki sepenuhnya. Yang bisa dilakukan hanyalah memaklumi ketidakmengertian itu sendiri. Haha.
Untuk My Big Brother yang sering baca blog Kakaknya tanpa meninggalkan jejak, tulisan ini juga untukmu Bro *pintu kamar langsung digedor*.

Membina, mendidik, mengasuh laki-laki itu menurut saya tidak mudah. Sebagai kakak perempuan, setidaknya itulah yang saya rasakan. Bahasa, kesukaan, kebiasaan, cara menanggapi masalah. Hampir semuanya beda kecuali yang hampir sama dari saudara sepertalian darah adalah cara mereka menghormati orang tua. Selebihnya hampir semuanya berbeda.

My Big Brother, saya tidak usah ceritakan lebih banyak karena dia terlalu introvert untuk diceritakan *it's your anger, ya?*. Maka saya mau cerita saja tentang yang satunya lagi, My Little Brother yang sekarang sudah kelas 3 SMA dan besok akan ujian SBMPTN *doakan ya*.

Semua hal diajarkan sejak kita ada di rumah. Rumah adalah sekolah pertama sebagai cetak biru kepribadian seseorang. Tapi untuk memahami yang diajarkan, kita butuh lingkungan sebagai kawah candradimuka dan juga sebagai pendukung. Saya serumah dengan dua orang adik laki-laki yang sejak kecil tidak pernah terpisahkan hingga sekarang keduanya sudah baligh. Masa-masa remaja seorang laki-laki, sungguh tidak mudah. Jika kita perempuan ketika remaja disibukkan dengan cinta, film romantis, atau tokoh idola--laki-laki tidak. Ada banyak kesibukkan yang mungkin ditawarkan kepada mereka: bolos sekolah, rokok, genk motor, bahkan narkoba dan film porno, yang--hal-hal yang saya sebutkan itu hampir jarang diminati remaja perempuan. Seperti yang sudah saya bilang di awal, remaja perempuan sudah cukup sibuk berkhayal tentang cinta. Tapi bagi laki-laki, cinta tidak akan menghabiskan seluruh pikirannya sebagaimanapun ia jatuh cinta. Maka dari itu, masih ada energinya untuk curiosity, menerima tawaran coba-coba. Meskipun saya tidak punya data untuk mengeneralisir hal tersebut. Anggaplah ini tulisan sok tahu saya. Itulah yang saya saksikan sendiri sepanjang saya berurusan dengan dua lelaki kecil itu selama bertahun-tahun. Maka tidak mudah bagi laki-laki menjalani masa remajanya dengan mulus. Selalu ada cerita nakal, meski kecil, sedikit, atau tersembunyi.

Saat lelaki kecil remaja itu sedang ada pada masanya pubernya, mereka sulit sekali untuk dinasihati. Curiosity nya amat sangat besar mengalahkan tingkat kelogisan mereka. Ego. Saya bilang itu ego. Segala bentuk perlawanan untuk mempertahankan ego akan dilakukan. Tidak ada bahasa lain yang dapat digunakan untuk memahamkan mereka kecuali do'a. Sudah tidak tau lagi apa yang bisa dilakukan, maka bahasa do'a dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Membolak-balikan hati, semoga mereka suatu hari akan sampai pada 'masa solehnya'. Suatu hari saat orang tua di rumah menganggap bahwa sang lelaki remajanya adalah anak manis tanpa kecuali, detik itu pula kita mungkin tidak tau bahwa di luar sana ia sedang menghisap rokok bersama teman-teman. Saat mereka setiap hari mengantarkan sang lelaki ke pagar rumah untuk berangkat sekolah.. saat itu pula mereka tidak tau bahwa sang lelaki tidak pergi ke sekolah: ia bolos. Bukan karena mereka ingin nakal, hanya ego. Ego untuk mencoba, untuk bisa berkata pada teman yang lain bahwa ia pun bisa. Ego bahwa: Saya Lelaki. Dan pada saat orang tua menyaksikan itu semua, amat jatuh berkeping-keping hatinya. Sungguh mereka setiap hari membesarkan anak dengan harapan bahwa mereka bisa tumbuh tanpa cela. Namun begitulah, selalu ada cerita di masa remaja para lelaki itu. Sejak itul para orangtua akan seribu kali lebih khawatir dan seribu kali lebih berdoa untuk mereka, "Ya Allah jadikanlah anak-anakku anak yang sholeh..".

Ada masanya saat Allah menjawab semua doa orangtua. Sang lelaki diberikan jalan atas hidayah lewat lingkungan. Bukan karena orangtua tidak pernah mengajarkan tentang Iman, Islam, dan Ihsan, namun lingkungan yang asing lebih memiliki daya pikat dibandingkan dengan jika belajar bersama dengan orang yang setiap hari bertemu di rumah, di mobil, siang dan malam. Maka saat ia betemu dengan lingkungan yang baik, itulah hari saat Allah menjawab doa mereka. Sang lelaki kecil perlahan berubah tanpa disadari orang tua. Saat perubahan itu membesar, barulah mereka sadar dan amat gembira hatinya. Siapakah gerangan seseorang yang telah Allah utus sebagai jalan dari jawaban doanya?? Ya Allah terima kasih. Untukmu juga seseorang, terima kasih..

Saya menyaksikannya  pada diri lelaki kecil saya, bagaimana masa remajanya tidak mulus halus. Namun orang tua tidak pernah letih berdoa dan selalu ada kata maaf bagi ananda tercinta.

Pada suatu hari dimana kami menyadari bahwa ia selalu shalat subuh, maghrib, dan isya di masjid, alangkah gembiranya.
Di hari lain, saat kami selalu menemukan Al-Qur'an di tas sekolahnya.. alangkah gembiranya.
Hari lain lagi, saat ia sukarela membantu petugas di masjid membagikan zakat, alangkah gembiranya.
Waktu berselang, dan ia kini selalu memikirkan orang lain, "Ma, apa bisa minta tolong untuk belikan hadiah untuk ulang tahun anak penjaga masjid? besok ulang tahun ke-1 Ma..".
Lain waktu lagi ia lebih sopan saat meng-sms, "Punten Kak, apa bisa titip print-kan kartu ujian? maaf kalau merepotkan Kakak.. tapi kalau Kakak sedang repot gapapa saya yang print sendiri. Terima kasih Kak..".
Dan terakhir.. "Sudah Mama dan Kakak jangan naik tangga dan angkat galon, biar saya aja..".

Di saat itulah.... betapa senangnya hati orang tua. Jaauhh.. jauuh lebih bahagia dibandingkan saat anaknya masuk sekolah favorit, begitulah yang orangtua saya bilang bahwa ilmu adalah yang pertama, tapi akhlaq yang utama. Betapa hal ini tidak terbayangkan saat menyaksikan kenakalannya dulu. Subhanallaah.. Maha Besar Allah pembolak-balik hati manusia.

Maka siapapun itu di luar sana, yang tidak ada pertalian darah namun dengan tulus mendampingi, mendidik para lelaki kecil itu menemukan jati dirinya.. menemukan TuhanNya.. menemukan kecintaannya pada Islam.. Siapapun Anda.. yang jelas tanpa Anda sadari, berapa banyak para orang tua di rumah yang mendoakan Anda.. berterima kasih atas segala yang Anda lakukan pada sang lelaki kecil mereka yang saat ini sudah beranjak dewasa dan semakin baik imannya, akhlaqnya..
Hadiah sekalipun tidak dapat membalas, hanya ucapan terima kasih dan doa yang banyak.. Semoga Allah mengabulkan dan memudahkan apa yang Anda inginkan, karena Anda telah berbuat baik.
Sekali lagi,
terima kasih.